Selasa, 25 Januari 2011

SEBUAH PENANTIAN

(Andika Widaswara)


/1/
“Annndddiiiiiiiiiiiiii… ngapain kamu masih disitu? Sini, bantu Bapak menggulung jala!”
Teriakan bapak mengoyak lamunan yang kubangun pada sosok itu. Sosok wanita aneh yang duduk di atas batu karang beberapa meter di depanku. Diam. Tanpa aktivitas. Rambut panjang menutupi punggungnya, sesekali berkibas digerakkan angin. Pandangannya jauh, menuju laut lepas.
“Andiiiiii… cepatlah hari mau hujan!”
“Ya, pak.” Teriakan bapak kali ini labih nyaring dari sebelumnya. Memaksaku untuk meninggalkan lamunan. Menjauh dari sosok itu. Tak begitu rela memang, untuk melangkahkan kaki meninggalkan wanita itu, menghampiri bapak.
“Siapa orang itu, Pak?”
“Entahlah, orang berlibur mungkin. Ayo cepat bantu Bapak, tuh langit udah gelap.”
“Ya pak…”
Aku menghambur pada pekerjaan bapak. Sesekali mataku masih mengamati sosok di pinggir pantai itu. Hari sudah petang, langit juga. Sebentar lagi akan turun hujan. Lalu? Kenapa orang itu masih disitu? Apa yang dilakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi ruang pikirku. Ingin sekali aku mencari jawab dari semua itu. Tapi aku yakin bapak tak akan mengijinkan. Sebentar-sebentar kupandangi bapak, yang sangat sibuk menggulung jala. Ingin sekali kutanyakan padanya, tapi segera kuurungkan.
“Mungkin dia orang kota, yang sedang berlibur disini.” Suara bapak sedikit mengagetkanku, mungkin dia tahu apa yang kupikirkan dari gerak tubuhku.
“Sudahlah bukan urusan kita. Ayo kita pulang, pasti Emakmu sudah menunggu.” Berat sekali melangkahkan kaki meninggalkan tempat ini. Bukan karena eksotika senja, tetapi murni karena sosok itu. Sosok yang telah menyita pikiranku untuk memikirkan pikirannya. Bapak berlalu beberapa langkah di depanku. Sebentar-sebentar masih kutengok sosok itu. Masih duduk di tempat tadi, belum beranjak, belum pula melakukan perubahan aktivitas.

Malam datang. Langit mengeluarkan cahaya-cahaya berkelap-kelip sebagai petanda akan memuntahkan air dalam kuantitas besar. Lidah cahaya menjulur panjang ke arah bumi. Langit tua. Sesekali petir menyambar. Dan benar, hujan deras turun tanpa ampun menikam-nikam bumi. Angin ribut. Pasangan serasi untuk membangun suasana yang mencekam. Pikiranku segera berlayar mengakrabi sosok di pantai itu. Seorang wanita. Jelaga malam. Deras hujan. Bagaimana dengannya? Masihkah ia di sana dalam keadaan seperti ini?
Tempat tinggalku sebuah desa di tepi pantai, desa terpencil lebih tepatnya. Sebagian besar masyarakat menggantungkan hidupnya pada laut, segala hasil dari laut. Tak terkecuali bapak. Tiap pagi bapak berlayar mencari ikan, lalu menjadi tugas emak untuk menjual ikan hasil tangkapan ke pasar. Pun karena terpencil penerangan di desaku masih menggunakan jasa lampu teplok. Jangankan listrik, lampu petromag baru dimiliki oleh sebagian orang. Tiap musim kampanye banyak orang-orang berpakaian parlente dan mobil-mobil mewah datang. Mungkin mereka dari rombongan tukang jamu. Mereka menjanjikan segala perbaikan fasilitas bagi kemajuan desa. Tetapi berkali-kali musim kampanye berganti, keadaan desa belum juga berubah.
Pagi. Mentari masih sembunyi. Sisa-sisa amukan semesta semalam langsung mengakrabi pandang. Disana-sini banyak pohon roboh. Orang kampung sibuk membersihkan jalan. Beberapa orang mengumpulkan potongan-potongan pohon tumbang untuk tandon bahan bakar. Rupanya, berbeda dengan bapak. Bapak sudah berangkat melaut. Bahkan sebelum aku membuka mata. Kata orang-orang yang telah lama mengggantungkan harapan hidup kepada laut, ikan banyak yang menepi pasca kejadian seperti semalam. Ingin segera kususul bapak ke pantai. Bukan untuk melihat sembulan mentari dari balik mega, bukan pula untuk menyaksikan efek hujan semalam. Terlebih untuk membantu bapak. Tapi murni karena sosok itu. Sosok yang telah menyita pikiranku. Aku berharap ia tak lagi disana. Tapi rasa keingintahuan dan penasaranku padanya tak cukup hanya dengan memikirkannya. Aku ingin mataku sendiri yang mengabarkan berita itu pada hati. Tanpa perantara!
Segera saja kuakrabi pantai. Tujuanku adalah sosok wanita itu. Jantungku berdetak lebih keras, lebih cepat, begitu pasir pantai menyapa kaki. Sosok wanita itu masih disitu. Di tonjolan karang itu. Tetap. Tak bergeser. Pun aku belum mampu mengintip wajahnya. Ia masih menghadap laut. Rambutnya menutupi sebagian wajah yang semestinya bisa kusaksikan dari samping. Aku mendekat. Antara takut dan sangsi. Tapi rasa penasaranku telah menyisihkan itu. Tepat lima meter sosok wanita itu ada di hadapanku. Aku berharap ia mengetahui kedatanganku, menyapa, dan bercerita. Entah itu tentang apa. Aku sangat ingin tahu isi pikirannya, setidaknya tentang alasannya berada disitu. Tapi apa lakuku? Tak habisnya seperti patung yang senantiasa diam, bahkan ketika diberodong kata-kata kotor sekalipun. Berkali ingin bertanya, tapi tak keluar juga. Entahlah, mulutku seperti terkunci. Dan aku benci dengan keadaan ini. Tak banyak yang bisa kulakukan, selain menunggu momen itu, momen dimana ia merasakan hadirku. Saat aku tak mampu merealisasikan keinginanku untuk bertanya, harapan itu tinggalah ia. Ia yang akan menceritakan sendiri. Namun berharap pada situasi seperti ini kuyakini adalah tindakan bodoh, meskipun tindakan itu juga tetap kupilih.

/2/
Sore. Pekerjaan rumah yang dibebankan padaku sengaja kuselesaikan lebih cepat. Tak ada alasan lain. Dua hari ini aku tak menikmatinya. Pikiranku tak berada disitu. Jika dinilai, mungkin hasil pekerjaanku tak pantas mendapatkan angka 6. Pantai, sosok wanita, sendiri. Kayaknya hanya itu yang menyesaki pikiran saat ini. Seperti yang kudapati kini. Sebuah senja, pantai yang berombak besar, batu karang menjorok, wanita berambut panjang, kesendirian. Kali ini sosok wanita itu sibuk menggores-gores sesuatu pada kanvas di depannya. Darimana ia mendapatkan itu? Mungkinkah ia pulang saat aku membereskan pekerjaan rumah? Atau mungkin ada penjual kanvas yang berkeliling tadi siang karena pantai ini tiba-tiba menjadi ramai? Banyak turis asing yang berjemur dan pelukis-pelukis keliling telah menjadi pekerjaan tetap yang membuat penduduk kampung meninggalkan pekerjaannya sebagai nelayan? Atau sosok itu adalah bintang teve yang ternyata sering kulihat di koran-koran bekas pembungkus tempe? Ah, rupanya aku terlibat pada pertengkaran pikiran dengan hati. Terjebak pada situasi menerka-nerka sesuatu yang tak pasti. Dan itu menyiksaku. Merasa tak sanggup lagi menahan beban pikiran aku putuskan untuk mendekatinya. Kubawakan sepiring makanan yang kuambil dari jatah makanku hari ini. Aku berharap ia mau memakannya. Ia bukan siapa-siapa bagiku, juga tak sedikitpun aku mengenalnya. Aneh memang, jika pikiranku selalu mengajak untuk memikirkannya. Tapi ia? Sosok itu. Apakah juga memikirkan dirinya sendiri?
“Mbak… ini kubawakan makanan buat mbak…” Masih diam. Tak bergeser. Hanya tanganya yang beraktivitas. Meliuk-liuk seperti penari di sebuah kelab malam. Mungkin wanita ini adalah penganut setia dari sebuah pepatah “lebih baik banyak bekerja daripada banyak bicara”.
“Hmmm… lukisan yang bagus.” Kali ini kugunakan strategi yang sangat mendasar tapi penting. Memuji untuk mendapatkan tanggapan! Padahal tak sedikitpun aku bisa mengintip lukisannya. Apalagi menilai sebuah lukisan. Ah, semoga aku kelihatan cukup pintar di pikirannya.
“Aku tak bisa melukis…” Pecah. Suara alam diam. Memberikan penghormatan setinggi-tingginya kepada sang Ratu.
“Lalu? Sekedar pengisi waktukah?” Ia bergeser. Kali pertama aku bisa melihat parasnya. Ayu. Sendu. Matanya dalam. Rambut panjang yang dibiarkan menari dibawa angin.
“Kenapa kau kesini?”
“Karena Mbak…”
“Maksudmu?”
“Sebab, Mbak sangat menarik perhatianku.”
“Sebegitu menarikkah hingga sejak kemarin kau selalu kesini?”
“Begitulah kiranya…” Lama, tak ada kata lagi. Ia larut lagi dalam kanvasnya. Memaksaku untuk lebih mendekat.
“Mbak melukis siapa?”
“Kamu tahu lelaki yang seminggu lalu berkunjung kesini?”
“Bukankah, Mbaknya melukis seorang wanita?” Diam. Wanita itu tak menjawab tanyaku. Mungkin ia tak suka denganku yang sok tahu. Atau tak suka dengan lakuku yang membalas tanya dengan tanya.
“Dua lelaki yang mati tempo hari karena terseret ombak?”
“Salah satunya kekasihku.” Riuh. Suara alam menandakan hari menjelang petang. Pertukaran estafet tugas dari pengisi waktu senja kepada pengisi waktu malam. Ramai. Layaknya para buruh yang keluar masuk pabrik karena pergantian shift.
“Untuk diakah Mbaknya ada disini?”
“Aku menunggunya…”
“Menunggu orang yang telah mati?”
“Kau tahu dia sudah mati? Kau temukan mayatnyakah?”
“Tapi, siapa yang bisa bertahan hidup di tengah samudra yang ombaknya seperti ini, Mbak?”
“Kau, begitu juga aku bukanlah pencipta takdir. Pulanglah, hari menjelang malam. Bawa makananmu.”
“Aku tak pulang jika Mbak tak pulang.”
“Siapa kau? Apa pedulimu?”
“Aku peduli sama, Mbak.”
“Aku menunggu kekasihku pulang. Tak ada gunanya kamu disini. Menggangu!” Matanya menikam, alisnya menyatu. Ketus. Kata-katanya menusuk hati. Ia menjadi sangat kejam.
“Tapi mbak…”
“Sudahlah, aku tak mau ngobrol lagi denganmu. Kau telah menyita waktuku untuk melukis, untk kekasihku.” Tak ada pilihan lain bagiku. Anjuranku tak digubrisnya. Kehadiranku tak diharapkanya. Mungkin ia tak tahu, jika aku hanya ingin memposisikan diri sebagai makhluk sosial yang berkewajiban membantu sesama. Entah itu membantu dengan cara apa. Mungkin pula, ia tak mau melibatkan emosiku dengannya.
“Rumahku di ujung jalan ini, tepat di pertigaan Mbak… akan sangat membahagiakan jika Mbaknya sudi berkunjung.” Nihil. Wanita itu tetap saja diam. Hanya tangannya yang sibuk menari di atas kanvas. Wanita misterius, semisteri langit petang.

/3/
Pagi. Langit dipenuhi mendung, murung. Menggoda setiap orang untuk kembali memancal selimut dan melupakan segala aktivitas. Sempurna sebagai alasan bagi para pemalas. Mendung pagi ini tetap memaksaku untuk bergegas. Menuruti lajunya pikiran. Benar, pantai adalah sebuah tujuan. Membantu bapak menyiapkan perahu dan jala sebagai alasan. Tapi lebih dari itu, adalah wanita misterius di pantai itulah tujuanku. Pikiranku masih terbawa olehnya, juga sampai sekarang ini. Begitu bapak berangkat melaut segera kuikuti alur rasa penasaran itu. Kaget. Tersentak. Begitu tak kutemui sosok wanita misterius itu di tempat biasanya. Mataku segera menyapu sekeliling. Kosong. Antara rasa penasaran dan was-was kudekati karang yang selama dua hari telah menjadi pesanggrahan bagi wanita misterius itu. Kanvas yang terbalik, kuas yang agak menjauh, dan bintik-bintik tumpahan cat tercecer di sana-sini. Kubalik lukisan itu. Jelas. Baru sekarang kulihat jelas. Deskripsi lengkap. Seperti sebuah cerita. Sebuah lukisan dengan background pantai, dengan seorang wanita berambut panjang tengah berjalan menuju laut lepas. Sudah berada di tengah. Seakan siap menyambut ombak bergulung yang datang hendak menjemputnya, bahkan melumatnya. Di pojok kanan ada tulisan miring, mungkin sebuah judul karena diapait tanda petik. “Menemui-mu.” Pikiranku sibuk mengembara, mengagungkan segala tanya. “Menemuimu? Lalu? Dimana wanita misterius pelukis kanvas itu? Mungkinkah ia…? Arrggghhhh…”


***SELESAI***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar