Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 September 2010

Mencari Tuhan

Tiba jua langkahku di peradaban sebuah kota.
Orang-orang sibuk mencari Tuhan.
Di bar-bar, bursa-bursa perempuan, bank-bank, juga perkantoran.
"Dimana Tuhan, dimana?" Mereka berteriak.
"Disini, Tuhan disni" Seorang birokrat menjawab sambil menguap.
Ketika orang-orang berdatangan yang teronggok cuma berhala kekuasaan.

Di kota peradaban,orang-orang makin sibuk mencari Tuhan, memanggil-manggil.
"Tuhan, dimana kau Tuhan?"

"Tuhan disini!" Jawab suara hotel dan kelab malam.
Ketika orang-orang berdatangan yang terhampar cuma kelamin-kelamin rindu bersepadan.

Di kota peradaban orang-orang mencari Tuhan. Hilir mudik di jalan. Berebut keluar masuk diskotik dan pasar swalayan. Orang-orang lupa, Tuhan dalam hati sendiri. Tak pernah pergi.
Namun Tuhan telah menjelma menjadi uang,bagi sebagian orang.

*deecka_83@yahoo.co.id*

Rabu, 23 Juni 2010

Bahasa Diam

"Terkadang bahasa diam lebih menggetarkan dari kata-kata."

Sore. Seorang anak. Wajah putih. Mata elang. Rambut agak sedikit memerah. Seperti juga anak kebanyakan. Dia bermain, riang, berlari, bernyanyi dengan teman sebayanya. Masa yang merdeka. Tak ada duka. Belum mengenal luka.
Lalu terjadi satu keributan kecil. Berebut mainan mungkin. Salah satunya menangis. Semakin mengeras, meraung. Permainan pun berhenti. Beberapa berlari menghindar. Anak mata elang terdiam. Teman-temannya sibuk menunjuk-nunjuk telunjuk padanya. Dia yang menjadi pesakitan. Mereka beranggapan dari dialah asal tangisan itu.

"Hai, lihat! Karena ulahmu si Noni menangis. Nakal."
"Gak pernah diajari Bapakmu seh."

Si Mata Elang diam. Tak ada pembelaan. Teman-teman lain ikut-ikutan menunjuk-nunjukkan jemarinya. Satu fokus. Satu titik: Si Mata Elang.

Tak tahan ia berlari, menghambur ke ibunya yang sejak tadi sibuk memotongi kayu bakar tak jauh dari tempat ia bermain. Ia selalu jadi pesakitan, tiap kali ada yang menangis kala bermain. Ia sudah biasa. Tapi setiap mendengar kata "Bapak" ada luka yang teramat dalam terbesit dari lakunya. Ia satu dari kesekian anak tanpa bapak yang lahir di negeri ini.