Minggu, 05 September 2010

Membincang Hubungan Manusia dengan Dirinya Sendiri dalam Novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata

Manusia belajar mengenal kehidupan melalui pengalaman yang telah dialaminya. Pengalaman hidup tersebut dijadikan pemikiran untuk bersikap, bertindak dan menempatkan diri dalam kaitannya hidup dengan masyarakat. Awalnya melalui pembelajaran pada diri sendiri.

Keindahan yang sederhana ini membuatku belajar menghargai cinta yang sekarang duduk di sampingku. (LP hal 271).

Dari penggalan tersebut seseorang memperoleh pelajaran yang berarti tentang cinta karena orang tersebut mengalami. Dari pengalaman tersebut kemudian ia bisa menghargai sebuah cinta. Dengan memiliki rasa menghargai tentunya manusia akan lebih dewasa dalam menyikapi permasalahan-permasalahan yang ada dalam kehidupan.
Kepuasan dalam diri manusia tidak bisa diukur dan kadang sulit dipahami dengan akal dari sudut pandang orang yang berbeda. Nilai kepuasan tiap diri manusia berbeda dengan individu lain. Karena perbedaan itulah terkadang sulit memahami nilai kepuasan orang lain.

Lelah, haus, dan berkeringat, tapi tampak jelas rasa puas pada setiap orang, sebuah ekspresi “telah mampu menaklukkan”. (LP hal 289).

Dalam kutipan tersebut digambarkan seseorang yang telah mampu mencapai puncak kepuasannya. Meski untuk meraihnya harus melalui perjuangan yang tidak mudah, yaitu merasakan lelah, kehausan, juga keringat yang mengucur deras, tetapi semua itu tidak sebanding dengan nilai kepuasan yang telah berhasil direngkuhnya. Sebuah alasan yang mungkin kurang diterima untuk orang lain, tetapi dengan sikap saling menghargai tentunya sikap-sikap yang demikian akan terkikis, karena tiap individu memiliki nilai kepuasan yang tidak sama.
Pengalaman adalah guru terbaik. Dengan pengalaman kita melakukan hal-hal yang baru, kita akan mengerti dan memahami alasan individu lain menyenangi hal tersebut.

Aku yakin perasaan inilah yang memicu sikap obsesif setiap pendaki gunung profesional untuk menaklukkan atap-atap dunia. Kiranya daya tarik mendaki gunung berkaitan langsung dengan fitrah manusia. (LP hal 289).

Dalam kutipan tersebut digambarkan seseorang yang bisa memahami alasan para pendaki gunung melakukan pekerjaan itu setelah ia sendiri melakukan pendakian dan merasakan kepuasan diri. Jika dipikirkan mungkin banyak orang yang mencibir pekerjaan itu, karena dianggap menyia-nyiakan waktu atau melakukan pekerjaan yang kurang berguna. Tetapi untuk alasan kepuasan, hal tersebut menjadi nisbi. Karena ada nilai kepuasan tersendiri bagi indivdu yang berhasil menaklukkan atap-atap dunia. Alasan yang berkaitan langsung dengan fitrah manusia, yang mungkin tidak dimiliki individu lain. Untuk itulah diperlukan sikap saling menghargai antar individu dalam kelompok masyarakat.
Dengan pengalaman yang telah kita alami, kita akan bisa berpikir bijak dalam bertindak, bersikap, dan menyelesaikan persoalan hidup. Karena apapun yang kita perbuat, suatu saat pasti akan dibalas, entah itu perbuatan baik maupun perbuatan jahat.

Namun kini hal serupa aku alami. Hukum karma pasti berlaku! (LP hal 305).

Penggalan tersebut menggambarkan seseorang yang mengalami kejadian persis dengan tindakan yang telah ia lakukan kepada orang lain. Tak ada yang gratis, karena semua pasti dibalas Allah. Mungkin benar petuah bahwa siapa yang menanam pasti akan memetik. Siapa yang berbuat baik maka akan mendapatkan kebaikan pula, dan siapapun yang berbuat jahat, pasti juga akan mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya tersebut. Hukum karma pasti berlaku entah hari ini, esok, lusa, ataupun nanti. Karena itu sebagai makhluk sosial sudah seharusnyalah kita berlomba-lomba untuk berbuat kebaikan.
Tidak semua realita dalam kehidupan sesuai dengan rencana yang telah kita buat. Kadang sesuatu yang menjadi keinginan kita tidak terjadi dalam alam nyata, justru yang terjadi sebaliknya. Kedewasaan berpikir dan berusaha berdamai dengan realita akan mengurangi rasa kecewa karena alasan tersebut.

Aku belajar berjiwa besar, berusaha memahami esepsi konsep virtual dan fisik dalam hubungan emosional.(LP hal 336).

Aku tetap rajin, dengan naluri cinta yang sama, dengan semangat yang sama, berangkat dengan Syahdan setiap senin pagi untuk membeli kapur, meskipun sekarang aku disambut oleh sebilah tangan beruang dan kuku-kuku burung nazar pemakan bangkai. (LP hal 336).

Akhirnya, aku mampu melangkahkan diri menyeberangi garis ujian tabiat mengasihani diri dan sekarang aku berada di wilayah positif dalam menilai pengalamanku. (LP hal 339).

Aku mempelajari metode-metode ilmiah modern agar dapat bangkit dari keterpurukan. (LP hal 339).

Aku berhenti membuat rencana-rencana yang tidak relistis. (LP hal 339)

Dari penggalan-penggalan kutipan tersebut bisa disimpulkan dengan belajar berjiwa besar akan menghindarkan diri dari sakit hati yang mendalam karena sebuah kegagalan. Kegagalan dijadikan perenungan bagi diri untuk bangkit lagi, menata langkah, belajar lebih giat lagi. Karena sesungguhnya jika sebuah kegagalan dimenejemen dengan baik, akan menumbuhkan kekuatan tersendiri bagi sifat individu manusia. Sifat yang tidak mudah menyerah, tidak cengeng, koreksi diri, dan juga belajar untuk bangkit dari keterpurukan. Itulah sebenarnya tujuan Allah memberikan cobaan kepada manusia, agar manusia belajar sabar, berjiwa besar, dan tentunya belajar bangkit. Sesungguhnya Allah tidak akan memberi cobaan kepada manusia di luar kekuatan manusia. Karena kita mampu melewati ujianlah maka diberikan cobaan.
Kedisiplinan juga sangat penting bagi tiap individu. Perilaku disiplin wajib kita tanamkan sejak dini, karena penerapan disiplin penting bagi pembentukan watak dan sifat manusia. Dengan belajar disiplin sejak dini, kita akan lebih menghargai waktu. Kewajiban yang telah dibebankan kepada kita harus diselesaikan dengan tepat waktu, agar pekerjaan lain tidak terbengkalai.

“Kali ini Ibunda tidak memberimu nilai terbaik untuk mendidikmu sendiri. Bukan karena karyamu tidak bermutu, tapi dalam bekerja apapun kita harus memiliki disiplin.” kata Bu Mus dengan bijak pada Mahar yang cuek saja. (LP hal 190).

Meskipun hasil karya (pekerjaan) Mahar baik, karena memang ia termasuk jago dalam urusan itu, tetapi Bu Mus tidak memberikan nilai terbaik untuk Mahar. Hal tersebut dilakukan karena Mahar terlambat dalam mengumpukan tugas yang telah dibebankan padanya. Betapapun baiknya hasil karya seseorang, tetapi apabila dikumpulkan melebihi tenggat waktu yang telah ditentukan maka sudah seharusnya mendapatkan perilaku yang berbeda dibanding teman-temannya yang mengumpulkan dengan tepat waktu.
Perilaku manusia sebenarnya banyak ditentukan oleh berbagai faktor. Selain dari diri sendiri, faktor orang lain yang hidup di sekitarnya juga banyak berpengaruh pada pembentukan karakteristik dan sifat individu manusia.

Sebagian orang menduduki profesinya sekarang sesuai cita-citanya, sebagian besar tak pernah sama sekali menduga bahwa ia akan seperti apa adanya sekarang, dan sebagian kecil memilih profesi karena pertemuan dengan seseorang. (LP hal 473).

Masa depan adalah misteri. Kita tidak akan bisa meramalkan apa yang akan terjadi untuk masa depan kita. Cita-cita wajib kita miliki sebagai acuan kita untuk mencapai masa depan. Tetapi hasil akhir dari cita-cita tersebut ditentukan dengan seberapa besar usaha kita untuk meraihnya. Ada yang sesuai dengan yang dicita-citakan, ada yang tidak mengira sama sekali akan mendapatkan masa depan seperti yang terjadi, dan ada pula yang memilih profesi untuk masa depan karena pertemuan dengan seseorang.
Seseorang bisa sangat berarti bagi kita, sehingga akan sangat mempengaruhi pola pikir kita, termasuk mengenai masa depan. Maka dari itu sebagai manusia kita harus tahu dengan siapa kita bergaul, jika kiranya merugikan kita harus segera menentukan sikap. Tetapi banyak juga pertemuan dengan seseorang akan membawa kemajuan bagi kita, bukan tidak mungkin orang tersebut akan menentukan langkah kita selanjutnya.


*deecka_83@yahoo.co.id*

Kamis, 26 Agustus 2010

Tanah Yang Dijanjikan Mimpi


Bromo. Sejak masa kuliah kata itu sangat menyita pikiranku. Setiap ingin mengunjunginyan ada saja alasan yang membut rencana jadi nihil. Terkadang semakin banyak bala dikerahkan untuk mencapainya semakin susah pula menyelaraskan waktu. Mulai dari urusan ini itu sampai pada perpecahan diantara teman karena rencana yang gagal meski telah masak digodok.

Sampai pada aku terjun di dunia kerja. Dunia yang telah banyak menyita waktuku. Tapi tak sedikitpun mengurangi minat dan inginku pada duni travelling. Semakin sibuk, semakin banyak pekerjaan menumpuk, semakin sering pula waktu untuk mengunjungi alam. Waktu yang kucuri dari sela-sela kesibukan ternyata membuatku semakin keranjingan menikmati alam. Untungnya ada saja kawan yang memiliki hobby sejenis.

Bertiga. Hanya bertiga. itu pun dengan modal nekat. Memanfaatkan waktu sempit liburan aku niatkan untuk mengunjungi Bromo dengan keadaan yang sangat terbatas. Pagi berangkat dari Jogja (karena waktu itu sedang berlibur di Jogja) langsung menuju Bromo via Malang. Sampai Malang jam telah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Setelah menyiapkan segala peralatan yang dibutuhkan kami bertiga meluncur ke Bromo. Malang -Bromo via Tumpang menghabiskan waktu tempuh kurang lebih 3 jam. Dingin yang menyapa pori, embun yang menyapa tubuh sampai jalanan yang sepi segera mengakrabi perjalanan. Dan perjalanan berat pun harus kami lalui.

Tujuan pertama adalah penanjakan. Dimana tempat itu berada di atas Gunung Bromo. Dengan pengetahuan jalan yang minim, kami memanfaatkan anugrah Sng Pencipta untuk menemui tujuan. Untungnya masih ada saja orang2 yang bisa dimintai keterangan. Sampai di penanjakan pukul 04.30. Susana sangat ramai. Tak seperti di jalan2 menuju Penanjakan. Disini kehidupan benar2 hidup. Mulai dari jejeran mobil2, para tukang ojek, sampai para penjaja bunga menawarkan aneka bunga yang dipetik dari gunung.

Pesona Penanjakan adalah menikmati matahari terbit. Turis manca maupun lokal membaur di tempat tersebut. Berjejal saling untuk mengabadikan moment terbitnya matahari tersebut. Sayang sekali waktu itu cuaca mendung, sehingga sedikit mengurangi keelokan dari proses alam tersebut. Pukul 07.00 kami bertiga turun menuju Gunug Bromo, kawah dan perjalanan panjang mengasyikkan dan melelahkan melewati lautan pasir di pelatarn Bromo. Sungguh hari yang menakjubkan!

Kamis, 24 Juni 2010

Sehari di Kawah Dieng



Dini hari. Ketika saya menginjakkan di sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Kabupaten Wonosobo tepatnya. Hawa dingin segera menyerang tubuh. Hawa segar khas pegunungan. Sambil menantikan subuh di kota Wonosobo kami (karena pada saat itu rombongan) terpaksa menambahkan penghangat di tubuh kami (kaos, baju, hingga jaket rangkap dua).

Usai subuh petualangan dimulai. Menuju kawah Dieng tak bisa ditempuh dengan bus besar. Terpaksa kami menumpang bus-bus mini yang memang menjadi angkutan umum ke tempat itu. Mata lelah sisa semalaman tak pernah rehat, segera dimanjakan dengan panorama yang teramat indah untuk dilewatkan. Jalanan yang berkelok-kelok, sebelah kiri gunung dan kanan jurang. Kabut tebal sajian gunung menambah keelokan. Hawa masih perawan. Sayur mayur yang tumbuh subur. Pun air gunung yang mengalir jernih. Sangat alami.

Tujuan pertama adalah komplek candi Arjuna. Sisa-sisa kebesaran kerajaan masih berdiri gagah sebagai perlambang pernah ada kehidupan damai di tempat ini. Ada beberapa candi yang sedang dipugar saat kami kesana. Tentunya dengan tak mengubah bentuk dasar candi tersebut.

Berikutnya kawah-kawah gunung vulkanis segera kami akrabi. Bau belerang yang menyengat membuat kami harus menahan nafas jika mendekat ke daerah kawah. Ada sekitar 4 kawah yang masih aktif disana (jika saya tak keliru menghitungnya), yaitu kawah Sibanteng, Sikidang, Sileri dan Sinila. (Semua diawali dengan si dan diikuti nama binatang; kuharap ada yang bisa memberi jawaban atas ini).

Telaga warna menjadi sajian berikutnya. Telaga warna terjadi karena pengaruh vulkanis. Sehingga ada bermacam warna air telaga yang bisa disaksikan mata telanjang (tenang aja, ini bukan termasuk porno kok). Di sekitar telaga juga terdapat goa, diantaranya Goa Semar dan Goa Jaran.

Terakhir, kami mengunjungi Dieng Volcanic Theater. Dari namanya sudah menunjukkan isinya. Theater untuk melihat kegunungapian Dieng. Juga bencana ketika gunung api di sekitar sana meletus.

Sehari mengunjungi kawah Dieng sangatlah kurang. Saya berharap bis mengunjunginya lagi kelak. Atau mungkin ada rekan yang sudi berbagi?

Rabu, 23 Juni 2010

Bahasa Diam

"Terkadang bahasa diam lebih menggetarkan dari kata-kata."

Sore. Seorang anak. Wajah putih. Mata elang. Rambut agak sedikit memerah. Seperti juga anak kebanyakan. Dia bermain, riang, berlari, bernyanyi dengan teman sebayanya. Masa yang merdeka. Tak ada duka. Belum mengenal luka.
Lalu terjadi satu keributan kecil. Berebut mainan mungkin. Salah satunya menangis. Semakin mengeras, meraung. Permainan pun berhenti. Beberapa berlari menghindar. Anak mata elang terdiam. Teman-temannya sibuk menunjuk-nunjuk telunjuk padanya. Dia yang menjadi pesakitan. Mereka beranggapan dari dialah asal tangisan itu.

"Hai, lihat! Karena ulahmu si Noni menangis. Nakal."
"Gak pernah diajari Bapakmu seh."

Si Mata Elang diam. Tak ada pembelaan. Teman-teman lain ikut-ikutan menunjuk-nunjukkan jemarinya. Satu fokus. Satu titik: Si Mata Elang.

Tak tahan ia berlari, menghambur ke ibunya yang sejak tadi sibuk memotongi kayu bakar tak jauh dari tempat ia bermain. Ia selalu jadi pesakitan, tiap kali ada yang menangis kala bermain. Ia sudah biasa. Tapi setiap mendengar kata "Bapak" ada luka yang teramat dalam terbesit dari lakunya. Ia satu dari kesekian anak tanpa bapak yang lahir di negeri ini.